Membangun Platform Kolaborasi Sektor Air Minum & Sanitasi Perdesaan

Membangun Platform Kolaborasi Sektor Air Minum & Sanitasi Perdesaan

Platform pembangunan air minum dan sanitasi perdesaan
Pada saat persiapan Lokakarya Nasional yang akan diselenggarakan pada awal Februari 2017, terjadi diskusi menarik membahas tema yang akan diusung. Pemerintah Indonesia sepakat bahwa perlunya kolaborasi dalam upaya percepatan peningkatan akses air minum dan sanitasi untuk mencapai target Universal Access (selanjutnya disebut Akses Universal) pada tahun 2019 adalah melalui platform pembangunan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (biasanya disebut Pamsimas).
Supaya tidak terkesan bahwa ini adalah proyek bernama Pamsimas (kenyataannya yang berperan memang bukan hanya Pamsimas), maka dikatakan bahwa perlunya mengusung pendekatan pembangunan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat untuk pedesaan di Indonesia. Kalau pun yang dicontoh adalah Pamsimas, itu dikarenakan Pamsimas saat ini merupakan program terbesar yang dikelola secara baik oleh Pemerintah Indonesia bersama Bank Dunia dan DFAT. Dan kalau pun pada akhirnya pendekatan (Pamsimas) disepakati untuk digunakan sebagai platform pembangunan air minum dan sanitasi perdesaan, maka pilihan pemerintah sudah tepat. Kenapa? Yang jelas Pamsimas telah menghasilkan contoh nyata di lebih 12,000 desa di 33 provinsi yang tersebar di 233 kabupaten di Indonesia sejak 2008.
Nah, kalau mau dibesarkan lagi hingga semua kabupaten di Indonesia terlayani oleh akses air minum dan sanitasi, maka kendaraan seperti Pamsimas akan sangat mudah dan mampu dipakai menjangkau seluruh wilayah perdesaan di Indonesia.
kolaborasi


Akses universal: prioritas pembangunan bidang air minum dan sanitasi
Bahwa semua warga Indonesia berhak mendapatkan akses kepada air minum aman dan sanitasi layak. Hanya saja seringkali soal prioritas sektor air minum dan sanitasi menjadi bukan merupakan urutan pertama dibandingkan sektor lainnya seperti jalan, jembatan, dsbnya. 
Akses air minum dan sanitasi mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap kehidupan manusia, terutama terhadap kesehatan, resiko stunting, produktifitas dan lainnya. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk mewujudkan akses untuk semua. Semua sepakat bahwa pemenuhan akses universal dalam bidang air minum dan sanitasi merupakan tujuan bersama, tidak ada pihak yang tidak menginginkan hal tersebut.


Tantangan mencapai akses universal 
Untuk mencapai akses universal, Bank Dunia dan Pemerintah sepakat mengatakan bahwa terdapat sejumlah tantangan, yaitu:

  • Diperlukan biaya yang sangat besar dalam untuk menyediakan akses air minum dan sanitasi untuk seluruh warga Indonesia. Dana yang ada tersebar dimana-mana, dalam berbagai program pemerintah baik di pusat, daerah, DAK, Dana Desa, dan lainnya. Masing-masing mempunyai karakteristik dan mekanisme tersendiri. Oleh karena itu dalam mencapai target untuk semua bidang air minum dan sanitasi, maka tidak ada cara lain selain membangunnya secara bersama-sama melalui kolaborasi yang efektif diantara semua program
  • Belum adanya sistem tunggal yang dipakai bersama untuk mewujudkannya. Pemerintah perlu membangun suatu sistem bersama yang membuat berbagai pihak dapat bekerja bersama dalam suatu platform tunggal untuk berkolaborasi dan berkontribusi.

Contoh menarik yang dikemukakan adalah bahwa Program Pamsimas sudah bisa mulai membangun platform bersama di tingkat desa, kabupaten, provinsi, dan pusat. Pamsimas sudah menjadi suatu program bersama antara masyarakat, pemerintah, lembaga non pemerintah, dan swasta (melalui CSR, kredit bank, dsbnya) untuk bersama-sama menyediakan  air minum dan sanitasi di perdesaan.


Kolaborasi dan instrumen kolaborasi
Kolaborasi adalah sebuah cara yang dipakai oleh semua pihak dalam mewujudkan tujuan, namun kolaborasi tidak cukup hanya sebatas niat. Kolaborasi tanpa adanya instrumen yang sesuai tidak akan berhasil. Kolaborasi memerlukan instrumen sebagai berikut:

  • Kelembagaan. Terbangunnya kelembagaan di tingkat desa, kabupaten, propinsi dan pusat sebagai wadah kolaborasi untuk mewujudkan akses universal.
  • Perencanaan. Adanya perencanaan yang dapat diterima oleh semua pihak, baik di desa dan kabupaten. Pemda dan masyarakat merupakan suatu kesatuan tunggal yang tidak terpisahkan karena mereka adalah pemegang keputusan utama yang dapat mewujudkan akses air minum dan sanitasi untuk semua.
  • Sistem informasi. Agar dapat bekerjasama secara setara, maka perlu disedikan Informasi yang sama yang dapat diakses secara terbuka oleh semua pihak, baik masyarakat, pemerintah maupun non pemerintah
  • Sistem pendukung. Tersedianya sistem pendukung yang dapat membuat upaya kolaborasi terjadi, seperti fasilitator dan tenaga ahli pada bidangnya masing-masing.

Pamsimas bertujuan untuk memberikan akses untuk semua di 27,000 desa yang memiliki kerawanan air minum dan sanitasi. Tantangan terbesarnya adalah membangun kapasitas untuk berkolaborasi yang pada intinya tidak ada satupun pihak yang memiliki tujuan yang berbeda. Semua ingin mewujudkan akses untuk semua. Dalam tujuan tersebut, KITA adalah SATU.
Akses universal, yes! Kolaborasi, siap!
 
Salam,
Trimo Pamudji Al Djono (bekerja sebagai konsultan pemberdayaan masyarakat dan Direktur Ipehijau)