Bagaimana Menghitung Capaian Aksi Mitigasi dan Adaptasi pada NDC?

Show all

Bagaimana Menghitung Capaian Aksi Mitigasi dan Adaptasi pada NDC?

Menghitung capaian aksi mitigasi dan adaptasi yang berkontribusi pada NDC adalah proses yang kompleks, namun krusial untuk memastikan akuntabilitas dan efektivitas upaya iklim. Tidak ada satu metode tunggal yang berlaku untuk semua, karena pendekatan akan sangat bergantung pada konteks nasional, jenis aksi yang dilakukan, dan target NDC yang ditetapkan.

Secara umum, perhitungan capaian aksi mitigasi dan adaptasi melibatkan serangkaian langkah dan prinsip metodologis yang berbeda, mencerminkan sifat unik dari kedua jenis aksi ini. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai cara menghitung capaian aksi mitigasi dan adaptasi yang berkontribusi pada NDC:

  1. Menghitung Capaian Aksi Mitigasi:

Aksi mitigasi umumnya lebih mudah diukur secara kuantitatif dibandingkan adaptasi, karena fokus utamanya adalah pada pengurangan atau penghindaran emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Perhitungan capaian mitigasi biasanya melibatkan langkah-langkah berikut:

  • Penetapan Baseline (Dasar) Emisi: Langkah pertama adalah menetapkan baseline emisi GRK. Baseline ini merepresentasikan proyeksi emisi di masa depan tanpa adanya aksi mitigasi. Baseline dapat berupa:
    • Skenario Business-as-Usual (BAU): Proyeksi emisi berdasarkan tren historis dan asumsi pertumbuhan ekonomi dan sektor tanpa intervensi kebijakan iklim yang baru.
    • Tahun Dasar Historis: Emisi GRK pada tahun tertentu di masa lalu (misalnya, tahun 2005 atau 2010) dijadikan titik referensi.
    • Pemilihan baseline yang tepat sangat penting karena capaian mitigasi akan dihitung sebagai pengurangan emisi dibandingkan dengan baseline ini.
  • Identifikasi dan Kategorisasi Aksi Mitigasi: Semua aksi mitigasi yang diimplementasikan harus diidentifikasi dan dikategorikan. Contoh kategori aksi mitigasi meliputi:
    • Energi: Transisi energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, bahan bakar rendah karbon.
    • Pertanian, Kehutanan, dan Penggunaan Lahan Lainnya (AFOLU): Pengelolaan hutan berkelanjutan, reboisasi, pertanian berkelanjutan, pengelolaan lahan gambut.
    • Industri: Efisiensi energi industri, teknologi rendah karbon, penggantian bahan bakar.
    • Limbah: Pengurangan limbah, daur ulang, pengelolaan sampah organik.
    • Transportasi: Transportasi publik, kendaraan listrik, bahan bakar alternatif, efisiensi bahan bakar.
  • Pengumpulan Data Aktivitas: Untuk setiap aksi mitigasi, data aktivitas yang relevan harus dikumpulkan. Data aktivitas adalah data kuantitatif yang menggambarkan skala atau intensitas aksi mitigasi. Contoh data aktivitas:
    • Energi: Kapasitas terpasang energi terbarukan (MW), konsumsi energi (GJ), penjualan kendaraan listrik (unit).
    • AFOLU: Luas area reboisasi (ha), volume kayu yang dikelola secara berkelanjutan (m³), penerapan praktik pertanian konservasi (ha).
    • Industri: Produksi baja rendah karbon (ton), penggunaan bahan baku sekunder (ton).
    • Limbah: Jumlah sampah yang didaur ulang (ton), jumlah sampah organik yang dikomposkan (ton).
    • Transportasi: Jarak tempuh kendaraan listrik (km), jumlah penumpang transportasi publik.
  • Penggunaan Faktor Emisi: Faktor emisi adalah nilai yang mengkonversi data aktivitas menjadi emisi GRK. Faktor emisi bervariasi tergantung pada jenis aktivitas, teknologi, dan konteks regional. Contoh faktor emisi:
    • Faktor emisi listrik dari pembangkit batubara (kg CO2e/kWh).
    • Faktor emisi deforestasi (ton CO2e/ha).
    • Faktor emisi metana dari tempat pembuangan akhir sampah (kg CH4/ton sampah).
    • Faktor emisi bahan bakar fosil (kg CO2e/liter).
    • Faktor emisi pupuk nitrogen (kg N2O/kg pupuk).
    • Faktor emisi tersedia dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dan sumber-sumber nasional.
  • Perhitungan Pengurangan Emisi: Capaian mitigasi dihitung dengan mengalikan data aktivitas dengan faktor emisi yang relevan. Secara umum, rumusnya adalah:

Pengurangan Emisi = (Data Aktivitas Aksi Mitigasi) x (Faktor Emisi yang Dihindari/Diganti) – (Emisi Residual dari Aksi Mitigasi)

    • Faktor Emisi yang Dihindari/Diganti: Faktor emisi dari aktivitas yang digantikan oleh aksi mitigasi (misalnya, faktor emisi listrik dari batubara diganti dengan faktor emisi energi surya yang mendekati nol).
    • Emisi Residual dari Aksi Mitigasi: Beberapa aksi mitigasi mungkin memiliki emisi residual (misalnya, emisi dari produksi panel surya atau emisi dari proses pembuatan pupuk organik). Emisi residual ini harus dikurangkan untuk mendapatkan capaian mitigasi bersih.
  • Agregasi dan Pelaporan Capaian Mitigasi: Capaian mitigasi dari berbagai aksi dan sektor dihitung secara terpisah dan kemudian diagregasi untuk mendapatkan total capaian mitigasi nasional. Capaian mitigasi biasanya dilaporkan dalam satuan ton CO2e (karbon dioksida ekuivalen) untuk periode waktu tertentu (misalnya, tahunan atau periode NDC).
  • Monitoring, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV): Sistem MRV yang kuat sangat penting untuk memastikan transparansi, akurasi, dan kredibilitas perhitungan capaian mitigasi. MRV mencakup:
    • Monitoring: Pengumpulan data aktivitas secara teratur dan sistematis.
    • Pelaporan: Dokumentasi metodologi, data, dan hasil perhitungan secara transparan.
    • Verifikasi: Peninjauan independen terhadap laporan capaian mitigasi oleh pihak ketiga yang kompeten.
Source: https://tracextech.com/digital-mrv-system-for-carbon-credits/

What is MRV?

Contoh Perhitungan Mitigasi:

Misalkan suatu negara mengimplementasikan aksi mitigasi berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 100 MW.

  • Data Aktivitas: Kapasitas terpasang = 100 MW, Faktor kapasitas = 20%, Jam operasi setahun = 8760 jam. Energi listrik dihasilkan = 100 MW x 20% x 8760 jam = 175,200 MWh = 175,2 GWh.
  • Faktor Emisi yang Dihindari: Faktor emisi rata-rata listrik dari grid nasional (misalnya, didominasi batubara) = 0.8 kg CO2e/kWh = 800 kg CO2e/MWh = 800 ton CO2e/GWh.
  • Pengurangan Emisi: 175.2 GWh x 800 ton CO2e/GWh = 140,160 ton CO2e per tahun.

Jadi, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya 100 MW ini diperkirakan mengurangi emisi sebesar 140,160 ton CO2e per tahun dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional.

  1. Menghitung Capaian Aksi Adaptasi:

Menghitung capaian adaptasi jauh lebih kompleks dan menantang dibandingkan mitigasi. Adaptasi bersifat kontekstual, spesifik lokasi, dan multidimensional. Tidak ada metrik universal untuk mengukur adaptasi, dan pendekatan pengukuran seringkali lebih bersifat kualitatif atau semi-kuantitatif. Perhitungan capaian adaptasi biasanya melibatkan langkah-langkah berikut:

  • Penetapan Tujuan dan Target Adaptasi: NDC dan rencana adaptasi nasional harus menetapkan tujuan dan target adaptasi yang jelas dan terukur. Target adaptasi bisa bersifat:
    • Pengurangan Kerentanan: Mengurangi kerentanan sektor atau kelompok masyarakat tertentu terhadap dampak iklim tertentu (misalnya, mengurangi kerentanan sektor pertanian terhadap kekeringan).
    • Peningkatan Kapasitas Adaptasi: Meningkatkan kapasitas kelembagaan, individu, dan sistem untuk beradaptasi (misalnya, memperkuat sistem peringatan dini bencana, meningkatkan kapasitas petani untuk praktik pertanian adaptif).
    • Pengurangan Risiko Bencana Iklim: Mengurangi risiko kerugian ekonomi, sosial, dan lingkungan akibat bencana iklim (misalnya, mengurangi risiko banjir di perkotaan, mengurangi kerugian akibat kekeringan di sektor pertanian).
    • Peningkatan Ketahanan (Resiliensi): Meningkatkan ketahanan sistem sosio-ekonomi dan ekosistem terhadap perubahan iklim.
  • Identifikasi dan Kategorisasi Aksi Adaptasi: Aksi adaptasi yang diimplementasikan harus diidentifikasi dan dikategorikan berdasarkan sektor, dampak iklim yang diatasi, dan jenis intervensi. Contoh kategori aksi adaptasi meliputi:
    • Infrastruktur: Infrastruktur tahan iklim (tanggul laut, sistem drainase, bangunan tahan gempa dan panas).
    • Pertanian: Varietas tanaman tahan iklim, praktik pertanian konservasi, diversifikasi tanaman.
    • Sumber Daya Air: Pengelolaan air terpadu, konservasi air, sistem irigasi efisien.
    • Kesehatan: Sistem peringatan dini penyakit terkait iklim, peningkatan kapasitas sistem kesehatan menghadapi dampak iklim.
    • Ekosistem: Restorasi ekosistem pesisir, perlindungan keanekaragaman hayati, koridor konservasi.
    • Sistem Peringatan Dini dan Informasi Iklim: Penguatan sistem peringatan dini bencana, diseminasi informasi iklim kepada masyarakat.
  • Pemilihan Indikator Adaptasi: Indikator adaptasi adalah metrik yang digunakan untuk mengukur kemajuan dalam mencapai tujuan dan target adaptasi. Indikator harus:
    • Relevan: Berkaitan langsung dengan tujuan dan target adaptasi yang ditetapkan.
    • Terukur: Dapat diukur secara kuantitatif atau kualitatif.
    • Sensitif: Mampu mendeteksi perubahan akibat aksi adaptasi.
    • Spesifik: Jelas definisinya dan tidak ambigu.
    • Dapat Diverifikasi: Datanya dapat dikumpulkan dan diverifikasi secara kredibel.
    • Contoh Indikator Adaptasi:
      • Sektor Pertanian: Persentase petani yang mengadopsi varietas tanaman tahan kekeringan, luas area lahan pertanian yang menerapkan praktik konservasi air, indeks ketahanan pangan.
      • Sektor Sumber Daya Air: Ketersediaan air per kapita di musim kemarau, jumlah rumah tangga dengan akses air bersih tahan kekeringan, luas area lahan basah yang direstorasi.
      • Sektor Kesehatan: Jumlah kasus penyakit terkait panas per 100.000 penduduk, jangkauan sistem peringatan dini penyakit menular, kapasitas rumah sakit dalam menghadapi lonjakan pasien akibat bencana iklim.
      • Infrastruktur: Panjang tanggul laut yang dibangun/diperbaiki, persentase bangunan publik yang tahan gempa dan panas, penurunan kerugian ekonomi akibat banjir di perkotaan.
      • Sosial: Jumlah penduduk yang memiliki akses ke sistem peringatan dini bencana, tingkat kesadaran masyarakat tentang risiko iklim, keberadaan rencana kontingensi bencana di tingkat komunitas.
  • Pengumpulan Data Indikator Adaptasi: Data untuk indikator adaptasi dikumpulkan secara berkala melalui berbagai metode, seperti:
    • Survei Rumah Tangga dan Komunitas: Untuk mengukur persepsi, praktik, dan dampak adaptasi di tingkat masyarakat.
    • Data Sekunder dari Sektor Terkait: Data dari dinas pertanian, dinas kesehatan, badan penanggulangan bencana, dll.
    • Pengamatan Lapangan dan Penginderaan Jauh: Untuk memantau kondisi lingkungan dan infrastruktur.
    • Penilaian Ahli dan Studi Kasus: Untuk analisis kualitatif dan mendalam tentang proses dan hasil adaptasi.
  • Analisis dan Interpretasi Data: Data indikator adaptasi dianalisis untuk menilai kemajuan dalam mencapai tujuan dan target adaptasi. Analisis dapat melibatkan:
    • Analisis Tren: Membandingkan nilai indikator dari waktu ke waktu untuk melihat perubahan.
    • Analisis Perbandingan: Membandingkan nilai indikator antara wilayah yang berbeda atau kelompok masyarakat yang berbeda.
    • Analisis Kontribusi: Mencoba mengaitkan perubahan indikator dengan aksi adaptasi yang diimplementasikan (walaupun sulit untuk membuktikan kausalitas secara langsung).
    • Analisis Kualitatif: Menganalisis studi kasus dan narasi untuk memahami proses adaptasi secara lebih mendalam.
  • Pelaporan Capaian Adaptasi: Capaian adaptasi dilaporkan secara berkala, biasanya dalam laporan adaptasi nasional atau bagian dari laporan NDC. Pelaporan adaptasi sebaiknya mencakup:
    • Deskripsi Aksi Adaptasi yang Diimplementasikan.
    • Indikator Adaptasi yang Digunakan.
    • Data Indikator Adaptasi dan Analisisnya.
    • Interpretasi Hasil dan Pembelajaran.
    • Tantangan dan Peluang dalam Implementasi Adaptasi.
  • Evaluasi Adaptasi: Evaluasi adaptasi dilakukan secara periodik untuk menilai efektivitas, efisiensi, dan relevansi aksi adaptasi. Evaluasi dapat menggunakan berbagai metode, termasuk:
    • Evaluasi Dampak: Menilai dampak jangka panjang aksi adaptasi terhadap kerentanan, kapasitas adaptasi, dan risiko bencana.
    • Evaluasi Proses: Menilai proses perencanaan, implementasi, dan monitoring adaptasi.
    • Evaluasi Biaya-Manfaat: Membandingkan biaya implementasi adaptasi dengan manfaat yang diperoleh (walaupun sulit mengkuantifikasi manfaat adaptasi secara moneter).
    • Evaluasi Partisipatif: Melibatkan pemangku kepentingan (masyarakat, pemerintah, sektor swasta) dalam proses evaluasi.

Contoh Indikator Adaptasi dan Pengumpulannya:

Misalkan suatu negara menargetkan untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap kekeringan.

  • Aksi Adaptasi: Promosi varietas tanaman tahan kekeringan kepada petani.
  • Indikator Adaptasi: Persentase petani yang mengadopsi varietas tanaman tahan kekeringan.
  • Metode Pengumpulan Data: Survei petani di wilayah target, data penjualan benih varietas tahan kekeringan, data dari dinas pertanian.
  • Target: Meningkatkan persentase petani yang mengadopsi varietas tahan kekeringan dari 20% menjadi 50% dalam 5 tahun.
  • Capaian: Setelah 5 tahun, survei menunjukkan bahwa 45% petani telah mengadopsi varietas tahan kekeringan. Capaiannya adalah peningkatan 25% adopsi varietas tahan kekeringan, mendekati target yang ditetapkan.

Tantangan dalam Menghitung Capaian Adaptasi:

  • Kausalitas yang Sulit Dibuktikan: Sulit untuk secara langsung membuktikan bahwa perubahan indikator adaptasi disebabkan oleh aksi adaptasi, karena banyak faktor lain yang juga berpengaruh.
  • Data yang Terbatas: Data indikator adaptasi seringkali tidak tersedia, tidak lengkap, atau tidak berkualitas baik, terutama di negara berkembang.
  • Metodologi yang Belum Standar: Metodologi pengukuran adaptasi masih terus berkembang dan belum ada standar universal.
  • Sifat Adaptasi yang Kontekstual: Indikator dan metode pengukuran adaptasi perlu disesuaikan dengan konteks lokal dan jenis dampak iklim yang dihadapi.
  • Aspek Kualitatif yang Penting: Banyak aspek penting dari adaptasi yang sulit diukur secara kuantitatif (misalnya, peningkatan kapasitas kelembagaan, perubahan perilaku, peningkatan kesadaran).

Kesimpulan:

Menghitung capaian aksi mitigasi dan adaptasi yang berkontribusi pada NDC adalah proses yang penting untuk akuntabilitas dan peningkatan upaya iklim. Mitigasi lebih mudah diukur secara kuantitatif melalui perhitungan pengurangan emisi GRK, sementara adaptasi lebih kompleks dan seringkali melibatkan indikator kualitatif atau semi-kuantitatif yang kontekstual. Sistem MRV yang kuat, data yang berkualitas, dan metodologi yang terus diperbaiki adalah kunci untuk pengukuran capaian aksi iklim yang kredibel dan efektif. Penting untuk diingat bahwa pengukuran adaptasi adalah bidang yang berkembang, dan pendekatan yang fleksibel dan adaptif diperlukan untuk menangkap kompleksitas upaya adaptasi di berbagai konteks.

Salam,

Trimo Pamudji Al Djono
Direktur Yayasan Ipehijau