Meningkatkan Ketahanan Iklim dan Kualitas Layanan Kesehatan Primer melalui Pendekatan WASH FIT di Jawa Tengah
Pekalongan, 20–21 Mei 2025 — Upaya memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia terus dilakukan pasca pandemi COVID-19. Salah satu langkah penting adalah memperbaiki kondisi air, sanitasi, dan kebersihan (WASH), serta sistem pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas layanan kesehatan. Untuk mendukung hal ini, UNICEF bersama Yayasan Inovasi Pembangunan Hijau (IPEHIJAU) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyelenggarakan Workshop Awal Tingkat Provinsi sebagai bagian dari pendampingan implementasi WASH FIT (Water and Sanitation for Health Facility Improvement Tool) di Provinsi Jawa Tengah.
Workshop yang berlangsung selama dua hari di Hotel Howard Johnson, Kota Pekalongan, ini menjadi titik awal dari rangkaian kegiatan yang akan berlangsung di Kabupaten Banyumas mulai Mei hingga Desember 2025. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mewujudkan Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC) dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) dan SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
Latar Belakang Kebutuhan Perubahan
Data dari Kementerian Kesehatan tahun 2020 menunjukkan bahwa:
-
9,59% Puskesmas di Jawa Tengah tidak memiliki akses terhadap air bersih,
-
12,33% memiliki layanan sanitasi yang tidak memadai,
-
Tidak ada satu pun Puskesmas yang memenuhi standar kebersihan tangan dasar,
-
Lebih dari 35% belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang memadai.
Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit menular, infeksi nosokomial (HAIs), serta mempercepat munculnya resistensi antimikroba (AMR). Dampaknya paling besar dirasakan oleh kelompok rentan seperti ibu, bayi baru lahir, serta petugas kesehatan.
Pendekatan WASH FIT menjadi alat bantu penting untuk melakukan penilaian, perencanaan, dan perbaikan berkelanjutan pada fasilitas kesehatan dalam aspek air, sanitasi, kebersihan tangan, manajemen limbah, dan kebersihan lingkungan secara menyeluruh.
Tujuan dan Harapan Workshop
Workshop ini dirancang untuk:
-
Menyegarkan kembali pemahaman peserta terhadap pendekatan WASH FIT dan berbagi pembelajaran dari pelaksanaan sebelumnya di tiga kabupaten di Jawa Tengah.
-
Memperkenalkan konsep WASH yang berketahanan iklim serta tools PERIKSA, yang merupakan alat bantu baru dalam menilai kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi perubahan iklim.
-
Membentuk dan memperkuat Tim WASH FIT Provinsi dan Kabupaten, khususnya di Banyumas.
-
Menyusun strategi implementasi, pembagian peran, serta identifikasi narasumber dan jadwal tentatif pendampingan.
-
Merumuskan strategi replikasi WASH FIT ke kabupaten lain.
-
Menyusun desain awal studi kasus dari pelaksanaan WASH FIT di Banyumas dan rencana diseminasi hasilnya.
Peserta dan Kegiatan Selama Workshop
Sebanyak 18 peserta hadir dari berbagai lembaga, termasuk:
-
Direktorat Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI,
-
UNICEF Indonesia,
-
Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten,
-
Bappeda Provinsi dan Kabupaten,
-
Universitas Diponegoro,
-
Poltekkes Kemenkes Semarang,
-
Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah,
-
Mitra pelaksana IPEHIJAU.
Selama dua hari, para peserta mengikuti berbagai sesi seperti:
-
Paparan kebijakan nasional tentang kesehatan lingkungan dan WASH di fasyankes,
-
Refresh konsep WASH FIT dan praktik baik dari daerah lain,
-
Pengenalan alat penilaian baru dan strategi keberlanjutan program,
-
Diskusi penyusunan rencana implementasi dan studi kasus.
Salah satu sesi penting di hari kedua adalah pemaparan dari Dr. dr. Anung Sugihantono, M.Kes., yang memberikan pandangan tentang strategi replikasi dan keberlanjutan program lingkungan kesehatan di tingkat daerah.
Menuju Layanan Kesehatan Primer yang Lebih Aman dan Tangguh
Hasil dari workshop ini sangat penting untuk memastikan bahwa Puskesmas di Banyumas dapat menjadi model pelayanan kesehatan primer yang:
-
Aman dan layak untuk pasien maupun tenaga kesehatan,
-
Responsif terhadap dampak perubahan iklim,
-
Inklusif dan sensitif terhadap gender serta kelompok rentan,
-
Berbasis data dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi awal dari pendampingan teknis di Banyumas, tetapi juga bagian dari komitmen lebih luas dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Salam,
Ipheijau




