Suku Boti, Mereka yang ‘Dianggap Sulit’ Terlibat dalam Proses Pembangunan Desa

Ini adalah kisah perjalanan saya ke salah satu desa yang dianggap indigenous (adat terpencil), terletak di pelosok pedesaan Indonesia. Penting bagi saya untuk benar-benar tahu kondisi sebenarnya di lapangan sebelum saya gunakan untuk kontribusi dalam bentuk tulisan-tulisan pembelajaran seperti modul pelatihan dan kontribusi di petunjuk teknis di beberapa program pemberdayaan masyarakat.

 Suku Boti

Suku Boti adalah suku yang masih dianggap indigenous oleh pemda dan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, terutama di sekitar Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU). Banyak informasi kami peroleh mengenai Suku Boti dari masyarakat maupun Pemda yang menyatakan bahwa Suku Boti masih menganut animisme, punya adat dan aturan sosial sendiri, masih dipimpin oleh raja, dan memiliki cara hidup tradisional yang berbeda dengan masyarakat modern. 

Perbedaan-perbedaan tersebut yang dianggap sebagai salah satu sebab mengapa Suku Boti dianggap “tertinggal” dan “sulit” untuk diajak terlibat dalam program-program pembangunan dari pemerintah dan swasta. Saya beri tanda petik pada kata tertinggal dan sulit karena hal ini perlu diskusi lebih lanjut untuk membahasnya.

boti-1

Gambar 1. Situasi jalan menuju Desa Boti (kiri) dan warga Desa Boti masih mengambil air dengan jalan kaki dari sungai.

Desa Boti

Suku Boti berada di Desa Boti Kecamatan Kie yang berjarak 2 jam dari Kota Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Untuk menjangkau lokasi Desa Boti membutuhkan waktu 1.5-2 jam menggunakan mobil double gardan (4 x 4) melewati jalan terjal dan berliku dan pemandangan alam berupa perbukitan hijau. Tidak banyak sarana umum yang dibangun sepanjang jalan menuju Desa Boti kecuali rumah2 sederhana, sekolah dasar, dan gereja.

Desa Boti tak ubahnya dengan desa lainnya di NTT. Namun desa ini sangat unik dan asri karena letaknya di perbukitan hijau. Soal lingkungan, kepercayaan masyarakat Suku Boti yang dianutnya saat ini membuat mereka sangat peduli dengan alam. 

Rumah-rumah tinggal Suku Boti berada di lingkungan yang masih banyak tanaman pohon tumbuh bebas. Rumah-rumah tersebut nampak adem karena terlindungi oleh tanaman pohon tersebut. Hampir semua rumah terbuat dari kayu yang sebagiannya sudah diplester dari semen bagian lantainya.  Sarana air bersih berasal dari sungai yang harus diambil dengan jalan kaki hingga 500-1000 meter. Air ini digunakan untuk kebutuhan masak, minum dan kegiatan sanitasi. 

Perilaku buang air besar sembarangan sudah tidak ada dan bisa dikatakan sudah ODF (open defecation free) walaupun hanya 50% warga memiliki jamban termasuk jamban cubluk hasil kegiatan pemicuan CLTS. Jamban yang cukup baik dan sangat bersih sudah dibangun sebanyak 3 unit di dekat homestay. Homestay ini disewakan bagi tamu-tamu dari luar, terutama turis asing yang ingin bermalam. 

Jalan lingkungan Desa Boti belum beraspal, namun sudah tersedia tangga-tangga jalan sudah diplester layaknya situasi di taman. Listrik belum ada. Warga Suku Boti masih memask menggunakan tungku kayu bakar.

Desa Boti mempunyai luas 17.16 Km2 dengan jumlah penduduk 597 KK atau sekitar hampir 2150 jiwa. Suku Boti terbentuk (diakui pemerintah) pada tahun 1967 dan dipimpin oleh Raja Boti. Saat ini hanya sebanyak 76 rumah (atau KK) yang secara langsung dibawah aturan Raja Boti,berada di lingkungan khusus yang dekat dengan tempat tinggal raja, sedangkan sisanya mengikuti aturan-aturan umum yang dipimpin oleh Kepala Desa Boti. Kepala Desa Boti sendiri berasal dari Suku Boti.

boti-2

Gambar 2. Situasi Desa Boti dan warga Suku Boti di pemukiman tinggalnya

 Memasuki Desa Boti harus melewati sebuah gerbang tanpa pintu yang bertuliskan Selamat Datang di Desa Boti, selanjutnya mobil berjalan lagi menuju lokasi yang dibatasi pagar tertutup di lingkungan khusus pemukiman Suku Boti. Lingkungan pemukiman khusus ini terdiri dari 76 rumah yang aturan-aturannya mengikuti titah dari raja.

Kehidupan Sosial Suku Boti

 Sebelum mengunjungi Desa Boti, kami beruntung dikenalkan oleh salah seorang Sanitarian bernama Om Yus yang merupakan warga asli Suku Boti sekaligus masih kerabat dekat dari Raja Boti. Om Yus sudah keluar dari Desa Boti dan tinggal di Kota Soe, sudah menganut agama Kristen, dan bekerja di kantor Dinas Kesehatan sebagai sanitarian. Namun demikian beliau masih sering mengunjungi Desa Boti untuk sekedar bertemu keluarga dan menjadi guide tamu-tamu dari luar yang ingin tahu lebih banyak mengenai Suku Boti.

boti-3

Gambar 3. Situasi pertemuan warga desa bersama Suku Boti

Berbagai informasi mengenai Suku Boti sebenarnya tidak semuanya benar terutama mengenai kehidupan social warganya. Warga Suku Boti nampak sama dengan suku-suku lainnya di wilayah Kab. TTS, namun karena lokasi desanya terpencil, maka terlihat berbeda dari desa lainnya.

 Kami diinformasikan untuk bersikap biasa-biasa saja seperti bertemu dan berdiskusi dengan warga lainnya, termasuk dengan Raja Suku Boti. Kami bertemu dengan Raja Boti dan melakukan diskusi mengenai kenapa Suku Boti dianggap sulit dan tidak mau menerima program-program dari pemerintah? Terdapat hal yang keliru terkait anggapan bahwa Suku Boti tidak mau menerima program dari pemerintah. Hal ini terbukti dengan keterlibatannyawarga Desa Boti dalamprogram pembangunan seperti PNPM Mandiri. Program lainnya dalam rangka untuk perbaikan jalan, perbaikan rumah dan irigasi juga sudah masuk di Desa Boti. Beberapa sarana di Desa Boti seperti posyandu, saluran irigasi, perpipaan air bersih dan perbaikan jalan malahan sudah nampak. 

Walaupun berbagai program pembangunan sudah ada, namun beberapa sarana dasar masih sangat kurang seperti listrik dan air bersih. Mengenai listrik, kami belum dapat informasi detail mengenai apakah mereka mau dialiri atau tidak.

 Hal yang perlu diluruskan mengenai penolakan terhadap program pembangunan adalah mereka tidak mau dianggap sebagai orang yang meminta bantuan. Hal ini sangat prinsip!. 

Kebiasaan hidup gotong royong, partisipasi, dan kontribusi dalam program pembangunan di Suku Boti adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi. Hal ini juga terkait dengan prinsip tidak mau menggantungkan nasibnya pada orang lain, dalam hal ini pemerintah dan bantuan dari pihak luar.

boti-4

Gambar 4. Raja Suku Boti (duduk paling kiri) bersama warga dan Direktur IPEHIJAU

Terkait dengan upaya pengenalan program Pamsimas di Desa Boti, Raja Boti sempat mengatakan bahwa hidup berdampingan dengan alam harus terus dijaga sehingga perlu ada program-program mengenai pelestarian alam agar sumber air tetap terjaga. Penting bagi kita semua agar menjaga alam untuk generasi mendatang. Hidup tidak tergantung pada bantuan orang lain bukan berarti tidak mau bekerja sama dengan pihak luar. Lebih baik turut serta membantu melalui gotong royong dan berpartisipasi dengan ikut kontribusi pada saat terlibat dalam proses pembangunan.

Raja Boti dan warga Desa Boti sempat kecewa dengan adanya program dari pemerintah dalam penyediaan sarana air bersih di desanya. Sudah 2 tahun lebih perpipaan yang dibangun oleh pemerintah provinsi tidak selesai sehingga belum dapat menikmati hasilnya. Masyarakat Suku Boti merasa juga tidak diajak untuk berperan dalam pembangunan tersebut.

Pada sesi terakhir, kami sepakat untuk melakukan komunikasi secara intens bersama dengan pelaku program lokal dan bersama-sama mencari solusi terbaik demi peningkatan kesejahteraan. Tentunya budaya dan adat setempat masih dijunjung tinggi sebagai kekayaan kearifan lokal negeri ini. 


Trimo Pamudji Al Djono

[Director Ipehijau dan konsultan program pemberdayaan masyarakat]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s