Merubah Perilaku BABS melalui Pendekatan CLTS

Community-Led Total Sanitation (CLTS) – Apakah itu Benar-benar Bekerja?

CLTS dengan cepat mengambil peran pembangunan secara global dengan cara cepat. Menurut Institut Studi Pembangunan (Institute of Development Studies), saat ini sudah lebih dari 50 negara menggunakan pendekatan ini dan setidaknya 15 negara telah membuat CLTS menjadi kebijakan resmi nasional. Di Indonesia, pemerintah sudah memasukkannya sebagai pendekatan dan telah membuat roadmap 2013-2015. Kebijakan resmi tertuang dalan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Program sanitasi tradisional biasanya membagi-bagikan jamban gratis atau subsidi untuk toilet. Awalnya semua orang gembira, tapi seiring waktu jamban tersebut tidak digunakan malahan dipakai untuk banyak hal selain diletakan saja di kamar mandi, seperti dipasang area memasak, sebagi kursi, dan bahkan sebagai pot bunga.

CLTS dikembangkan oleh seseorang yang bernama Kamal Kar sebagai alternatif untuk pendekatan pembangunan bidang sanitasi. Menurut CLTS Handbook: Community-Led Total Sanitation (CLTS) berfokus pada memicu (triggering) perubahan perilaku sanitasi daripada sekedar membangun toilet. Ini dilakukan melalui proses kebangkitan sosial yang dirangsang oleh fasilitator dari dalam atau luar masyarakat.

Latrine CLTS1

(source pic: from Pamsimas)

 

Apa itu Community-Led Total Sanitation?

Pada intinya sangat sederhana. Anda menunjukkan kepada orang-orang yang tidak sadar bahwa mereka sedang makan bersama feses (kotoran manusia, tai). Fakta ini begitu menjijikkan sehingga masyarakat memutuskan sendiri untuk membangun jamban bersama-sama (tidak ada subsidi dan tidak perlu untuk meyakinkan mereka harus membangun).

Proses ini disebut “memicu”, dan hasilnya adalah rencana aksi, selanjutnya dengan sadar mencantumkan tanggal dimana semua orang setuju untuk menghentikan buang air besar sembarangan (BABS) di tempat terbuka.

Selama memicu fasilitator mengidentifikasi beberapa individu, terutama yang termotivasi (biasa disebut Natural Leader). Fasilitator melakukan tindak lanjut kunjungan (pasca pemicuan) untuk memeriksa bahwa setiap orang membangun jamban sesuai dengan rencana. Setelah semua orang berhenti buang air besar sembarangan (BABS), masyarakat menyelenggarakan perayaan. Perayaan ini biasanya disebut Deklarasi ODF (Open Defecation Free = terbebas dari buang air besar sembarangan).

Ada banyak kegiatan yang berbeda yang dapat digunakan untuk memicu masyarakat. Berikut adalah beberapa favorit saya (ide-ide dapat dilihat di CLTS Handbook):

  • Berjalan malu (Walk of shame): katakan kepada anggota masyarakat yang Anda kunjungi dan Anda ingin belajar tentang desa mereka dengan berjalan di sekitarnya. Saat Anda berjalan di sekitar, tunjukan kotoran manusia yang ada di lingkungan mereka pada saat itu.
  • Pemetaan (Mapping): ajak warga untuk membuat peta desa di tanah dan berdiri di mana rumah mereka. Kemudian minta mereka untuk menandai tempat dimana mereka buang air besar.
  • Segelas air (The glass of water): ambil segelas air bersih dan tanyakan apakah seseorang akan bersedia untuk meminumnya. Kemudian ambil selesai rambut dari kepala Anda atau warga. Sentuhkan rambut tersebut di kotoran manusia (boleh hewan) yang tergeletak di tanah. Sehelai rambut seolah-olah adalah kaki lalat. Kemudian masukan sehelai rambut yang sudah terkena kotoran tersebut ke dalam air di dalam gelas. Tanyakan apakah ada orang yang ingin meminumnya sekarang?

Beberapa orang juga telah menggunakan CLTS sebagai inspirasi untuk mengembangkan kegiatan pememicu untuk program seperti mencuci tangan.

Apakah CLTS dapat diterapkan?

Menurut pengalaman, ketika CLTS dilakukan dengan baik dan di lingkungan yang tepat, maka perbaikan sanitasi dapat segera teratasi dengan cepat. Pada salah satu desa di program semacam Pamsimas yang pernah saya kunjungi. CLTS berhasil meningkatkan kepemilikan jamban dari 58% menjadi 92% hanya dalam beberapa bulan. Belum lagi banyak desa yang sudah melakukan deklarasi ODF karena berhasil merubah perilaku seluruh warga desa menjadi tidak buang air besar sembarangan (Stop BABS).

Namun, ketika CLTS gagal dilakukan (seperti yang sering terjadi di program-program pemerintah dulu) itu bisa sangat tidak efektif. Hasilnya adalah tidak ada perubahan dalam cakupan jamban. Padahal di daerah yang sama dimana terdapat program CLTS dapat berjalan cukup sukses karena banyak pekerja kesehatan dan/atau sanitarian telah dilatih di CLTS.

The CLTS Handbook memberikan beberapa tips tentang kondisi lingkungan di mana CLTS paling mungkin bekerja efektif, yaitu dimana masyarakat pedesaan (biasanya kecil) yang homogen secara sosial. Adakalanya juga ditunjukkan di lingkungan yang lebih menantang, termasuk permukiman perkotaan, masyarakat yang beragam budaya, atau daerah yang memiliki subsidi dari program lainnya yang masih berjalan.

Apakah perbaikan jangka pendek dapat dipertahankan untuk jangka panjang?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Bangladesh dan Nepal tingkat jamban yang terus bertahan (dipakai oleh masyarakat) relatif tinggi setelah intervensi. Namun, di Nigeria hasilnya sangat beragam. Perlu studi jangka panjang yang diperlukan untuk menentukan apakah CLTS sebenarnya mengarah ke perubahan jangka panjang atau tidak?

Terus, bagaimana dengan di Indonesia? Di Indonesia, kegiatan CLTS sudah dilakukan hampir satu dekade. Pemerintah sendiri, seperti yang sudah ditulis di bagian awal telah menyakini bahwa pendekatan ini cukup berhasil, walaupun bukan satu-satunya cara.

Bagaimana di Pamsimas?

Beberapa lokasi yang pernah saya dikunjungi ataupun kami mendapat laporan, situasinya sangat beragam. Terlebih pendekatan CLTS melalui program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) ini berjalan sangat massive di seluruh wilayah Indonesia. Kami sering menjumpai betapa nyamannya masyarakat di pinggiran sungai masih senang melakukan cara-cara lama membuang air besar di sungai, bersamaan dengan kegiatan mandi, mencuci, dan mengambil air di sungai yang sama.

Tentunya rekan-rekan pendamping seperti Sanitarian, STBM Fasilitator, dan Koordinator Provinsi STBM mempunyai banyak cerita dan pengalaman soal CLTS.  Semangat tetap harus menyala dan yakin bahwa perubahan perilaku menuju yang lebih baik akan bisa dilakukan oleh masyarakat dengan melakukan pendampingan yang intensif.

Rasanya kita selalu menunggu cerita-cerita menarik dari mereka.

Salam, 

Trimo Pamudji Al Djono (@aldjono)

Referensi: CLTS handbook (http://www.communityledtotalsanitation.org/sites/communityledtotalsanitation.org/files/cltshandbook.pdf)
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s