Bagaimana “Silent Spring” Rachel Carson Memicu Gerakan Pelestarian Lingkungan? (Bagian I)

Pada tanggal 4 Juni 1963, kurang dari setahun setelah kontroversial klasik soal lingkungan, buku “Silent Spring” diterbitkan, penulis Rachel Carson, bersaksi di depan subkomite Senat pestisida. Rachel Carson, 56 tahun, mengidap penyakit kanker payudara. Dia mengatakan sudah hampir tidak ada kanker di dalam tubuhnya. Dia sudah sehat melalui mastektomi radikal. Pinggulnya begitu banyak dengan patah tulang yang hampir tidak mungkin baginya untuk berjalan ke tempat duduknya di meja kayu sebelum panel Kongres. Untuk menyembunyikan kebotakan akibat kanker, dia mengenakan wig coklat gelap.

“Setiap sekali dalam sejarah umat manusia, buku muncul secara substansial mengubah jalannya sejarah”, kata Senator Ernest Gruening, seorang Demokrat dari Alaska mengenai karya Carson pada saat itu.

“Silent Spring” diterbitkan hampir 60 tahun yang lalu pada September. Meskipun ia tidak sengaja untuk melakukannya, Carson telah mempengaruhi gerakan lingkungan semenjak filsuf paling terkenal abad ke-19, Henry David Thoreau, menulis tentang Walden Pond.

“Silent Spring” menyajikan kondisi lingkungan yang terganggu oleh pestisida sintetis, terutama DDT. Setelah pestisida ini masuk biosfer, Carson berpendapat bahwa DDT tidak hanya membunuh hama tetapi juga memutus ekosistem  hama atas rantai makanan yang mengancam burung dan populasi ikan yang akhirnya bisa menyebabkan sakit pada anak-anak.

Banyak data dan studi kasus yang menarik dari Carson bukan merupakan hal baru; komunitas ilmiah telah tahu temuan ini sebelumnya, tapi Carson adalah orang pertama yang menempatkan semua itu bersama masyarakat umum dan menarik kesimpulan hebat dan diluar kebiasaan. Dalam melakukannya, Carson, seorang ilmuwan, melahirkan revolusi.

“Silent Spring,” telah terjual lebih dari dua juta kopi, membuat sebuah besar kasus menjadi sebuah gagasan bahwa jika manusia meracuni alam, maka alam pada gilirannya akan meracuni manusia. “Tindakan lalai dan merusak masuk ke dalam siklus besar bumi dan di waktu pengembalian membawa bahaya untuk diri kita sendiri,” katanya kepada subkomite tersebut. Kita masih melihat efek pembiaran intervensi manusia melalui mata Carson: ia mempopulerkan ekologi modern.

Jika ada, isu-isu lingkungan tumbuh lebih besar – dan lebih mendesak – sejak Carson’s day. Belum ada karya tunggal punya dampak seperti “Silent Spring.” Tidak berarti bahwa kita kekurangan pemeduli lingkungan sejati dan antusias dengan kapasitas mampu menjangkau khalayak luas tentang isu-isu seperti perubahan iklim. Bill McKibben adalah orang pertama yang membuat kasus menarik pada tahun 1989, krisis pemanasan global di “The End of Nature.” Elizabeth Kolbert ikut dengan “Field Notes from a Catastrophe.” Al Gore menggema luas dengan “An Inconvenient Truth , “dan dianugerahi Hadiah Nobel. Mereka secara luas dianggap bertanggung jawab membentuk pandangan kita tentang pemanasan global, tetapi tidak mampu menggembleng masyarakat dunia yang menuntut perubahan nyata seperti cara yang Carson lakukan.

Apa itu yang memungkinkan Carson untuk menangkap imajinasi publik dan menempa kesadaran lingkungan Amerika?

Saint Rachel, “biarawati alam,” ia dipanggil, sering malah dijuluki dengan nama salah satu penyebab lingkungan atau yang lain, tapi sedikit yang tahu banyak tentang hidup dan latar pekerjaannya. “Orang-orang berpikir dia datang entah dari mana untuk menyampaikan pesan-pesan tentang ‘Silent Spring,’ tapi dia punya karya besar tentang laut sebelumnya,” kata McKibben. “Dia adalah Jacques Cousteau sebelum ada Jacques Cousteau.” (Jaqques Cousteau, ilmulan kelautan : https://en.wikipedia.org/wiki/Jacques_Cousteau)

Laut menjadi daya tarik cukup besar bagi seorang wanita yang dibesarkan terkurung daratan dan miskin. Ia dilahirkan pada tahun 1907 saat maraknya Zaman Industri sekitar 18 mil Sungai Allegheny dari Pittsburgh, di Kota Springdale. Dari jendela kamar tidurnya, dia bisa melihat cerobong dari America Glue Factory, tempat jagal kuda. Pabrik, pemandangan buruknya, terletak kurang dari satu mil jauhnya, menyusuri sungai landai dari kamar petaknya Carsons. Orang yang lewat bisa menonton kuda-kuda tua berbaris di sebuah jalan kayu tertutup menunggu kematian. Bau isi tangki, pupuk yang terbuat dari kotoran kuda, begitu menyengat, bersama dengan nyamuk-nyamuk yang hidup di rawa dekat tepi sungai Bottoms, yang sering dihalau oleh 1,200 warga Springdale yang duduk di beranda mereka di malam hari.

Ayahnya, Robert Carson, adalah orang malas yang tidak bertanggung jawab (ne’er-do-well) punya usaha namun selalu bangkrut; Marian, kakak Carson melakukan shift kerja di pembangkit listrik batu bara di kota. Ibu Carson, Maria seorang wanita ambisius yang sakit hati pada seorang pendeta Presbyterian, memiliki harapan besar bahwa putri bungsunya, Rachel bisa dididik dan selanjutnya pindah dari Springdale. 

Rachel mendapat beasiswa ke Pennsylvania College Khusus Perempuan, sekarang dikenal sebagai Chatham University di Pittsburgh. Setelah lulus, ia pindah ke Baltimore, dimana dia  melanjutkan pascasarjana bidang zoologi di Johns Hopkins University dan menyelesaikan gelar master sebelum keluar untuk membantu keluarganya. Keluarga Carsons bernasib lebih buruk selama jaman Depresi, dan mereka melarikan diri dari Springdale meninggalkan hutang cukup banyak.

 

(Foto: NYTimes)

Carson menjadi editor sains untuk US Fish and Wildlife Service, sebuah lembaga didirikan di bawah New Deal. Berkeinginan menjadi seorang penulis, dia kerja lepas untuk The Atlantic and Readers Digest, melakukan publikasi lainnya. Didorong oleh cintanya pada laut, ia menulis segalanya dari mana ke mana pada saat liburan musim panas untuk melihat apa melakukan apa dengan melihat siklus hidup makhluk laut.

Carson percaya bahwa orang hanya akan melindungi apa yang mereka cintai, jadi dia bekerja untuk membangun “rasa takjub” tentang alam. Dalam buku terlarisnya tentang laut – “The Sea Around Us,” “The Edge of the Sea” dan “Under the Sea-Wind” – dia menggunakan narasi sederhana dan kadang-kadang sentimental tentang lautan untuk mengartikulasikan ide-ide yang terkini tentang hal terdalam yang sebagian besar tak terlihat.

Carson awalnya ragu tentang sikapnya dengan apa yang dia disebut sebagai “buku racun.” Dia tidak melihat dirinya sebagai seorang wartawan investigasi. Pada saat itu, dia menerima penghargaan National Book Award untuk karya “The Sea Around Us” dan menetapkan dirinya sebagai naturalist di harinya. Ini adalah peran yang jauh merakyat dan kurang kontroversial dari satu “buku racun” akan menempatkan dia di dalamnya.  Melakuka beberapa investigasi di industri terbesar dan paling kuat di dunia akan menjadi hal menakutkan bagi siapa pun, apalagi bagi seorang wanita lajang dari generasinya. Dia mencoba meminta penulis lain untuk mengatasi bahaya pestisida. E.B. White yang berada di The New Yorker, membuat serial buku utama Carson, dengan halus menyarankan agar dia menyelidiki pestisida sendiri untuk The New Yorker. Akhirnya dia melakukannya.

”Silent Spring” dimulai dengan sebuah cerita, “A Fable for Tomorrow,” di mana Carson menjelaskan “sebuah kota di jantung Amerika di mana semua kehidupan nampak harmoni dengan lingkungannya. Sadar keterkaitan satu dunia yang ideal agar pembaca tahu, Carson menyajikan bukan rimba belantara tapi sebuah kota di mana orang-orang, jalan dan selokan dapat hidup berdampingan dengan alam – sampai kerusakan misterius menimpa tempat sempurna ini. “Tidak ada sihir,” Carson menulis, “tidak ada ulah yang dilakukan musuh merusak tatanan kehidupan di dunia yang terganggu ini. Orang-orang telah melakukannya sendiri.”

Carson tahu target audiens pembaca yang menyukainya, termasuk sejumlah ibu-ibu rumah tangga. Dia mengandalkan mereka sebagai pasukan warga yang peduli pada dua hal, menemukan robin (burung kecil berbulu merah di dada) dan tupai teracuni oleh pestisida di luar rumah mereka, serta sebagai pembaca yang punya ketertarikan. Mempertimbangkan gambar musnahnya tupai: “Kepala dan leher yang membujur kaku dan mulut tersumpal kotoran, menunjukkan bahwa hewan mati teracuni (menggigit) di tanah.” Carson kemudian meminta pembacanya, “Dengan merelakan tindakan yang menyebabkan penderitaan pada makhluk hidup tersebut, siapa di antara kita tidak sedih sebagai manusia? ”

Kesediaannya untuk mengajukan pertanyaan moral pada “Silent Spring” dibandingkan dengan karya Harriet Beecher Stowe “Uncle Tom Cabin,” ditulis hampir satu abad sebelumnya. Kedua buku mencerminkan pemikiran Protestan secara umum saat itu yang menuntut tindakan pribadi ke hak salah masyarakat. Namun Carson, yang dibaptis di Gereja Presbyterian, bukanlah seorang religius. Salah satu prinsip Kristen khususnya bagian yang keliru: gagasan bahwa alam ada untuk melayani manusia. “Dia ingin kita pahami bahwa kami hanya keliru sedikit (we were just a blip), ” kata Linda Lear, penulis biografi definitif Carson, “Saksi Alam.” “Kontrol alam adalah ide sombong, dan Carson melawan arogansi manusia.”

(Bersambung ke Bagian II : Silent Spring Bagian 2)

 

Editor: Trimo Pamudji Al Djono (Direktur IPEHIJAU)

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s