Internalitas dan Eksternalitas Lingkungan dalam Isu Transportasi

polusi n transportasi jkt

Masalah transportasi dan lingkungan adalah paradoks di dunia sejak transportasi membawa manfaat sosial ekonomi yang cukup besar, tetapi pada saat yang sama transportasi berdampak pada sistem lingkungan. Dari satu sisi, kegiatan transportasi mendukung meningkatnya tuntutan mobilitas untuk penumpang dan barang, sementara di sisi lain, kegiatan transportasi yang terkait dengan tingkat pertumbuhan eksternalitas lingkungan. Pada saat ini, paling tidak di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia telah mencapai titik di mana transportasi merupakan sumber dominan emisi polutan yang paling berdampak terhadap lingkungan. Dampak tersebut jatuh dalam tiga kategori:

  1. Dampak langsung. Konsekuensi langsung dari kegiatan transportasi di lingkungan di mana hubungan sebab dan akibat umumnya jelas dan nampak.
  2. Dampak tidak langsung. Efek sekunder (atau tersier) dari kegiatan transportasi pada sistem lingkungan. Dampak ini sering memberi konsekuensi lebih tinggi dari dampak langsung, tapi hubungan yang terlibat sering disalahpahami dan sulit terbangun.
  3. Dampak kumulatif. Aditif, konsekuensi perkalian atau sinergis kegiatan transportasi. Ini memperhitungkan efek beragam dari dampak langsung dan tidak langsung pada ekosistem, yang sering tidak dapat diprediksi.

Kompleksitas masalah telah menyebabkan banyak kontroversi dalam kebijakan lingkungan dan perannya di transportasi. Sektor transportasi sering disubsidi oleh sektor publik, khususnya melalui pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan yang cenderung bebas akses. Kadang-kadang, saham publik di moda transportasi, terminal dan infrastruktur dapat dijadikan isu yang ‘nyleneh’ di sektor lingkungan. Jika pemilik dan regulatornya sama (tetap aja sama dalam naungan pemerintah), maka ada risiko bahwa peraturan tidak akan efektif dipatuhi. Hal ini juga dapat menyebabkan kondisi yang ekstrim di mana kepatuhan akan menyebabkan sistem transportasi menjadi tidak efisien karena adanya biaya yang disubsidi.

Total biaya yang dikeluarkan oleh aktivitas transportasi, terutama kerusakan lingkungan, umumnya tidak sepenuhnya ditanggung oleh pengguna transportasi. Kurangnya pertimbangan biaya riil transportasi bisa menjelaskan beberapa masalah lingkungan. Namun, hirarki kompleks biaya yang terlibat, mulai dari internal (kebanyakan operasi), compliance/kepatuhan (taat peraturan), contingent (risiko dari suatu peristiwa seperti tumpahan) ke eksternal (diasumsikan oleh masyarakat). Misalnya, biaya eksternal memperhitungkan rata-rata diperkirakan lebih dari 30% dari biaya mobil. Jika biaya lingkungan tidak termasuk dalam penilaian ini, penggunaan mobil akibatnya disubsidi oleh masyarakat dan biaya terakumulasi sebagai pencemaran lingkungan. Hal ini memerlukan pertimbangan karena jumlah kendaraan, terutama mobil, terus meningkat.

Oleh: Trimo Pamudji Al Djono

Ref:  https://people.hofstra.edu/geotrans/eng/ch8en/conc8en/ch8c1en.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s